Ketika kukabarkan tentang anakku yang meninggal kuberi nama Abdurrahman dan ‘Ukasyah, seorang teman nyeletuk, "Oh … laki-laki dan perempuan bayinya". Yang dia maksud dengan perempuan itu ‘Ukasyah, yang ditelinga orang Indonesia lebih mirip nama perempuan.
Tidak ‘Ukasyah bukan nama perempuan, ‘Ukasyah adalah laki-laki, Salah seorang sahabat nabi yang dijamin maksud surga.
Salah satu fragment dimana ‘Ukasyah sebagai pelakunya adalah ketika haji wa’da dan agama islam sudah ditetapkan sebagai agama yang sempurna, kemudian semua sahabat berkumpul karena mereka tahu bahwa Rasul yang mereka Cintai akan segera meninggalkan mereka.
Dan Rasul bertanya. "Wahai sahabat, kalian tahu umurku tak akan
lagi panjang, Siapakah diantara kalian yang pernah merasa teraniaya
oleh si lemah ini, bangkitlah sekarang untuk mengambil kisas, jangan
kau tunggu hingga kiamat menjelang, karena sekarang itu lebih baik."
Setelah diulang 3 kali dan tidak ada yang menjawab, maka berdirilah ‘Ukasyah.
"Ya Rasul Allah, Dulu aku pernah bersamamu di perang Badar. Untaku dan
untamu berdampingan, dan aku pun menghampirimu agar dapat menciummu,
wahai kekasih Allah, Saat itu engkau melecutkan cambuk kepada untamu
agar dapat berjalan lebih cepat, namun sesungguhnya engkau memukul
lambung sampingku ucap Ukasyah."
Abu bakar dan Umar berusaha mencegah dan bersedia untuk menggantikan Rasul untuk di kisas, Tapi Rasul melarang, "Wahai Abu Bakar
dan Umar, duduk lah kamu, sesungguhnya Allah S.W.T. telah menetapkan tempat
untuk kamu berdua."
Begitu juga Ali, Hasan dan Husain berusaha mencegah, tapi Rasul tetap melarang dan membiarkan ‘Ukasyah untuk mengambil balas mencambuk tubuh beliau.
"Ya Rasul Allah, saat Engkau mencambukku, tak ada sehelai kainpun yang
menghalangi lecutan cambuk itu". Tanpa berbicara, Nabi langsung
melepaskan ghamisnya yang telah memudar. Dan tersingkaplah tubuh suci
Rasulullah. Seketika pekik takbir menggema, semua yang hadir menangis
pedih.
Melihat tegap badan manusia yang dimaksum itu, Ukasyah langsung
menanggalkan cambuk dan berhambur ke tubuh Nabi. Sepenuh cinta
direngkuhnya Nabi, sepuas keinginannya ia ciumi punggung Nabi begitu
mesra. Gumpalan kerinduan yang mengkristal kepada beliau, dia tumpahkan
saat itu. Ukasyah menangis gembira, Ukasyah bertasbih memuji Allah,
Ukasyah berteriak haru, gemetar bibirnya berucap sendu, Tebusanmu,
jiwaku ya Rasul Allah, siapakah yang sampai hati mengkisas manusia
indah sepertimu. Aku hanya berharap tubuhku melekat dengan tubuhmu
hingga Allah dengan keistimewaan ini menjagaku dari sentuhan api
neraka.
Dengan tersenyum, Nabi berkata: Ketahuilah wahai manusia, sesiapa
yang ingin melihat penduduk surga, maka lihatlah pribadi lelaki ini.
Ukasyah langsung tersungkur dan bersujud memuji Allah. Sedangkan yang
lain berebut mencium Ukasyah. Pekikan takbir menggema kembali. Wahai,
Ukasyah berbahagialah engkau telah dijamin Nabi sedemikian pasti,
bergembiralah engkau, karena kelak engkau menjadi salah satu yang
menemani Rasul di surga. Itulah yang kemudian dihembuskan semilir angin
ke seluruh penjuru Madinah.