Mina, awal 2005, 2 tahun lalu, jalan menuju ke jamarat rasanya hari itu tidaklah begitu sesesak sehari sebelumnya. mungkin karena sudah hari ketiga melontar, mereka yang ngambil nafar awal bahkan sudah ada yang pulang ke mekkah.
Berjalan berombongan seperti biasa, kami melewati tenda tenda para jemaah yang ingin mendekat ke tempat jamarat, mungkin karena jatah resmi tenda mereka sangat jauh (Mina baru tempat tinggal jemaah yang baru dibangun berjarak 7 kilo dari jamarat). Dan mereka mendirikan tendanya di pinggiran jalan, bercampur dengan para penjual berbagai macam barang.
Rupanya hari itu Allah menakdirkan kota Mekkah dan sekitarnya hujan, hujan yang lebat, bercampur angin dan badai. Subhanallah.
Selesai melontar kami melewati kembali jalanan yang waktu kami pergi ke jamarat masih dipenuhi pedagang dan jamaah, Masya allah, Jalanan itu sekarang telah menjadi jalan air dengan arus yang cukup deras. mungkin karena tidak terbiasa hujan, maka pemerintah saudi tidak mempersiapkan saluran air yang memadai. Dan air menyapu semua yang ada di situ, jangankan tenda, bangunan toko yang cukup permanen saja ikut tersapu. Dan sampahpun dimana mana. Dibutuhkan excavator 320 untuk membersihkan tumpukan sampah2 tsb.
Mendekat terowongan muasim, mata saya melihat beberapa "bekas" tenda ditumpukan sampah. masih bagus. Dan saya sangat yakin kalau beli baru tenda model tsb di Jakarta harganya gak bakal kurang dari 600 ribu rupiah. "Mi, ambil yuk, lumayan" kata saya sama istri. "Jangan bi, itu bukan milik kita" Alhamdulillah istri mengingatkan.
Jakarta, awal 2007, 2 tahun sesudah badai di Mina, giliran jakarta yang diguyur hujan yang sangat lebat.
Hujan deras itu tidak berhenti barang sejenak dari magrib sampai tengah malam. Masya allah … kami yang tertahan dan berteduh di mesjid IAIN, malam itu diharuskan menerobos hujan untuk pulang ke rumah, karena tetangga mengabarkan kalau rumah sudah disambangi air. Dan benar, ketika sampai, kami mendapati komplekku sudah digenangi air setinggi dada, pagar mesjid bahkan sudah tidak kelihatan karena kalah tinggi dengan air. agak bersusah payah sampai juga saya ke rumah, dan di dalam rumah air itu sudah setinggi paha. Allahu Akbar.
Tingginya air membuat barang barang di rumah ikutan berenang, kulkas berenang, TV berenang, tabung gas, kompor gas, buku-buku dan baju-baju. Karena Capai, walau spring bed sudah setengah tergenang dan sangat berair, kami tetap tidur disitu sampai pagi.
Alhamdulillah pagar kami masih lebih tinggi dari genangan air, jadi barang-barang yang berenang itu tertahan oleh pagar dan tidak keluar dari halaman.
katika surut hari berikutnya, ada cerita yang cukup membuat saya sedikit tersenyum. Ada anak luar komplek yang "dapat" tupperware yang terdampar. kemudian ada warga yang memintanya, dan si anak tidak mau mengembalikan, dia bilang itu nemu kok dari tumpukan sampah yang terdampar. "Lah saya tidak berniat membuangnya kok, cuman memang terbawa banjir" kata sang warga.
Coba kalau saya jadi ngambil tenda yang di Mina itu …. Dan 2 tahun kemudian hati saya mengharuskan mengembalikan tenda itu ….