Buat apa cape-cape bikin sistem komputer ?
Kalau semua orang bisa dipercaya maka komputerisasi pergudangan bakal tidak diperlukan lagi.
Jika semua orang jujur, ngapain cape-cape bikin sistem keuangan.
Dan seterusnya.
Ada benarnya.
Walaupun kalimat-kalimat tadi diawali dengan sesuatu yang kelihatannya utopis, tapi hati kecil kita sebetulnya memimpikan agar sekeliling kita adalah orang-orang yang jujur dan bisa dipercaya.
Hanya masalahnya, kalau kita memandang suatu object hanya dari satu sisi, khawatirnya kita salah menangkap dengan baik isi dari object tsb.
Dalam dunia fotografi, ah sayangnya saya termasuk yang tidak suka foto-foto,
Seorang fotografer yang baik akan mencatat semua tehnik fotonya,
fokusnya berapa, bukaan diagfragmanya berapa, pencahayaannya berapa.
buat apa ?
Agar kesalahan yang dulu terjadi jangan sampai terulang. Agar cukuplah hasil foto yang burem hanya terjadi waktu diawal awal kita punya kamera.
Tentu begitu juga dengan system pergudangan.
Kita tetap harus mencatat barang yang keluar,
kita harus tetap mencatat barang yang masuk,
berapa banyak (quantity), berapa kali (occurrence),
Karena dengan begitu kita nanti akan punya data,
dan dengan data tersebut nanti bisa didapat informasi,
barang A cepat laku, barang B jarang laku, barang C tidak pernah laku,
dan dari informasi itu kita bisa menagambil keputusan,
barang A dibanyakkin, barang B sedikit saja, barang C kalau bisa gak usah lagi distock.
Kalau ngambil analogi seperti bidang fotografi tadi, cukuplah kita menumpuk barang yang "salah" diawal awal kita punya gudang.
Barangkali disini benang merahnya, komputerisasi itu mencatat kemudian menginformasikan.
Sukur sukur bisa aman.
Tapi kalau mau jujur, tidak ada sistem komputer yang 100 persen aman. Karena seharusnya nyaring jujur atau tidaknya orang, bukan tugas sistem komputer, mungkin tugas orang HR barangkali.