cerita sang kancil
Sunday, July 20th, 2008"Ayo
kak sini bobo sama Abi, nanti abi mo cerita."
Maka
datanglah kesempatan itu, kesempatan berdongeng menemani anak sebelum tidur.
"Abi
mau cerita tentang kancil"
Ah memang
cuman itu yang terlintas di benak saya, waktu saya sama-sama berbaring,
benar-benar
gak punya ide lain.
Apalagi
mau berimprovisasi, memadukan hal2 yang lebih dia gandrungi sekarang, seperti
avatar atau naruto, dengan dongeng yang saya ketahui sebelumnya. Gak bisa, saya
tak punya ide secerdas itu. Bisa-bisa justru anakku yang banyak mendongeng dan
saya yang tertidur.
"Ceritanya
ada seekor kancil
trus
disekitar situ ada pak tani yang berkebun timun.
nah
ceritanya kancil ini kalau malam nyuri timun pak tani tersebut.
lama-lama
pak tani gerah juga khan kak, habis timunnya tiap malem hilang.
maka
dipasanglah perangkap agar yang mencuri timunnya ketangkap.
maka
tertangkaplah sang kancil, kemudian diapun dikurung.
kata pak
tani, besok nanti kamu akan saya sembelih.
Dan pak
tanipun pergi meninggalkan si kancil dalam kurungan.
kemudian
datanglah seekor kambing
kamu
kenapa ada disini Ncil ? tanya kambing"
kambing
yah ?, saya benar-benar lupa, binatang apa yang mau dijebak oleh kancil
tersebut.
Saya lupa
binatang apa yang mau ditipu sama kancil dengan jawaban bahwa dia mau
dikawinkan dengan anaknya pak tani.
ditipu ?
waduh …
sudahlah
punya kebiasaan mencuri, sekarang mau menipu pula
dua
perbuatan salah, sangat salah.
mana pada cerita itu sang kancil adalah stereotip
si pintar
Jadi yang
namanya pintar itu adalah mencuri dan menipu ….
Sedih dan
bingung saya mau melanjutkan dongeng itu seperti versi aslinya.
untunglah
saya di "saved by bell", adzan isya berkumandang, dan sayapun masih
punya kesempatan untuk mereka-reka lanjutan cerita.
"Abi
ke mesjid dulu yah,
nanti
selesai shalat, kita lanjutin lagi dongengnya",
Diapun
mengangguk, dan menunggu … satu yang saya suka adalah, dia selalu
memperhatikan kalau saya bercerita, ah bukankah seperti itu pada setiap anak ?
dan
dilanjutkan …
"kamu
kenapa dikurung ncil ? tanya sang kambing
aku
mencuri nih mbing, makanya dihukum, trus besok katanya saya mo disembelih ..
Wah … makanya
jangan mencuri dong ncil, gini aja … kalau besok pak tani datang, kamu minta
maaf saja, kali-kali aja pak tani mau maafin.
makasih
mbing, entar besok saya mau minta maaf.
besoknya
pas pak tani datang, sang kancilpun minta maaf,
nanti
kamu bakal mencuri timun saya lagi ? kata pak tani, masih gak percaya.
Gini aja
pak tani, saya ngebersihin kebun pak tani aja, nanti pak tani kasih upah timun
sama saya, jadi saya gak nyuri lagi. kata kancil"
"iya
ya bi, mencuri khan dosa" komentar anakku.
Alhamdulillahhirabbil’alamiin.