Abdurrahman dan ‘Ukasyah
Abdurrahman dan ‘ukasyahku duluan sampai, Sampai ke Ridha Allah, Sampai tanpa harus melalui dulu hiruk pikuknya dunia, Sampai insya Allah untuk menyambut ayah dan ibunya, yang sekarang lagi berjalan tertatih, di tengah hiruk pikuk dunia, untuk Insya Allah menuju tempat yang sama, ridha Allah jua.
Allahu akbar, Abdurrahman dan ‘ukasyah kami, 5 bulan sudah ada di hati kami, kami usahakan agar tumbuh dengan baik di kandungan, ada sakit sedikit langsung ke dokter, ada keluhan sedikit langsung periksa, tapi Allah berkehendak lain, pada kandungan 18 minggu, Kantong janin dimana Abdurrahman tumbuh, bocor, dokter menyebutnya sebagai ketuban pecah dini. Allahu Akbar.
Istriku langsung diminta bedrest, menunggu sampai janin cukup umur untuk dilahirkan, diinfus dengan cairan brikasma agar mules dan kontraksi tertunda. Bedrest, tidak kemana mana bahkan tidak ke kamar kecil sekalipun. Dengan harapan walau ketubah sudah merembes, Abdurrahman tetap nyaman di kantong janinnya. Tapi sekali lagi, Allah berkehendak lain, rabu 17 mei 2006 Abdurrahman tetap ingin keluar, kepalanya sudah di ujung rahim, setelah semalaman mules, subuh jam 5.15 akhirnya Abdurrahman keluar, terlalu kecil untuk bisa bertahan hidup. Allahu Akbar.
Secara teori, tidak pernah ada kandungan kembar dimana satu janin lahir, janin satunya tetap bertahan. Tapi setelah Abdurrahman lahir, di USG terlihat ‘Ukasyah terlihat baik dan nyaman, Air ketuban cukup, kantong janin bagus, gerak baik, detak jantung juga baik, harapan itu .. subhanallah tetap membuat hati ini masih bisa tersangkut. Maka sekali lagi istri diminta bedrest, dan cairan brikasma tetap disalurkan ke badan istri saya.
Tapi Allah Maha BerKehendak, Selasa 23 mei 2006, Kantung janin tempat ‘Uksyah dibesarkan pecah. Ya Allah Ya Rahman …. Engkau memang lebih mencintai Abdurrahman dan ‘Ukasyah kami, kami tahu engkau penuh dengan Cinta. Pagi itu ‘Ukasyah juga lahir, satu minggu setelah saudara kembarnya lebih dulu lahir. Walau dengan mulut berusaha bernafas, tangan menggapai gapai, kaki menendang … tapi engkau masih terlalu kecil ‘Ukasyahku … setelah tiga jam detak jantung ‘Ukasyah berhenti … Inna lillahi wa inna ilaihi Rajiuun … bukankah kita semua ini milik Allah …. Ayah dan ibu juga milik Allah …. Tangis ini sudah kucoba untuk tidak keluar, tapi masya Allah, saya tidak mampu untuk menahannya….
Panjang, jalan terlalui dalam merengkuh harapan ini. Berliku walau di ujung tetap tak pasti. Tapi kami telah diajar, berputus dalam harapan adalah dosa. Dan kamipun telah mengerti, indahnya suatu usaha, karena itu dasar dari pahala dari Rabb aja wazalla, Semoga ….
June 21st, 2006 at 8:37 am
Innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun. Bayi yang meninggal Insya Allah menjadi “tabungan” orang tua kelak.
June 21st, 2006 at 8:39 am
Innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun. Bayi yang meninggal Insya Allah menjadi “tabungan” orang tua kelak.