Anakku masuk Insan Cendekia
www.insancendekia-tng.net , nama resminya adalah Madrasah aliyah negeri Insan Cendekia.
Saya punya ponakan, tapi saya lebih suka menyebutnya sebagai anak saya, Insya Allah tamat smp tahun ini.
Saya sering mendengar kalau SMA atau Aliyah besutan BPPT yang kemudian diserahkan ke depag ini punya prestasi yang bagus. Diambil praktisnya, relatif mudah mengukur SMA itu bagus atau tidak, yaitu dengan melihat tingkat kelulusan ke PTN dari alumninya. Dan SMA ini setiap tahunnya meluluskan lebih dari 95 persen alumninya ke PTN. Pokoke bagus lah …
Berbekal keinginan untuk mendapatkan pendidikan yang baik bagi anak, jauh jauh hari saya mencari informasi pendaftaran ke SMA ini.
Januari lalu saya datang ke sana dan menemui tata usahanya.
"Pendaftaran dari tanggal 15 februari sampai 31 maret pak" pak tata usaha menjelaskan dengan ramah, sambil menyodorkan brosur.
"Kalau biayanya berapa pak ?" tanya saya.
Untuk mendapatkan mutu yang bagus, adalah keharusan bahwa tenaga yang menggerakkannya haruslah mendapatkan penghasilan yang bagus juga. Logika saja, kalau untuk menghidupi keluarganya harus bersusah susah, bagaimana mungkin seorang guru bisa berkonsentrasi mengajar, dan mengajarkan ilmu ke murid-muridnya dengan tenang.
"Belum tahu pak, tahun sebelum ini sih uang mukanya 15.000.000 trus SPPnya 1.250.000 per bulan" jelas pak tata usaha.
"Duh kok mahal betul yah pak" gumanku
"yah .. memang yang sekolah disini dari golongan menengah ke atas" jawab pak tata usaha
Dooooooooooooooooooooooooohhhhhh
"Jadi kalau menengah ke bawah, agak sulit mendapatkan pendidikan yang bermutu kalau begitu pak ?" guman saya ….
"Yah ada beasiswa bagi yg dari pesantren atau dari MTS, sekitar 10 % dari jumlah siswa" jawabnya. Dari nada kalimat terakhirnya, saya menangkap hal yang kurang enak, entahlah, saya merasa beliau tidak se welcome sebelumnya.
"terima kasih pak" dan sayapun pulang.
waktu pendaftaranpun tiba.
Dengan mencoba menghitung kemungkinan rezeki yang akan diterima nanti, Bismillah, saya daftarkan anak saya. Soal biaya …. insya Allah ada jalan. atau paling tidak ikut ujian dulu lah.
Berbondong-bondong orang tua mendaftarkan anaknya, padahal anak anak itu lulus SMP saja belum.
Dari yang akan diterima 120, yang mendaftar 702, subhanallah, antusiasme yang cukup tinggi.
Waktu ujian tiba.
"pokoknya kamu harus ujian dengan sungguh2 nak" saya bilang ke anak saya.
"trus diisi semua ? apa kalau gak yakin dibiarkan saja kosong ? " tanya anak saya.
"Isi semua, jangan biarkan kosong, dan jangan keluar sebelum bel, periksa dan periksa lagi, kalau gak yakin, cari yang paling yakin" saya meminta ke anak saya untuk sungguh sungguh.
Waktu pengumuman tiba, Subhanallah, Anak saya lulus, senang tentu saja.
Dan bagi yang sudah lulus diminta untuk daftar ulang ….
Di paduan daftar ulang ditulis, diminta untuk membayar sekitar 12 juta pas tanggal 14 april, 4 juta sekian dibayar sampai akhir april, 4 juta sekian lagi dibayar sampai akhir mei. Kalau tidak membayar sesuai yang dituliskan, dianggap mengundurkan diri.
Ya Allah ya Rahman ….. saya mencintai saudara saya, saya mencintai kalau saudara saya berprestasi, saya mencintai kalau saudara saya terpenuhi kebutuhannya, saya mencintai Insan cendikia sebagai institusi islam yang punya prestasi yang tidak kalah dengan sekolah yang berakhiran us us itu, saya mencintai Insan cendikia sebagai yang saudara seiman seakidah.
Tapi dari mana ini dapat uang sedimikian besar dan sedemikian tepat waktu itu.
Ibuku dan adikku menyarankan untuk tidak dilanjutkan.
"Insya allah kalau anak itu bernasib baik, nanti juga akan punya rejeki sendiri pas dewasa" Kata ibu saya bijaksana.
Tapi cinta dan keinginan ini sudah cukup besar untuk memasukkan anak ke Insan cendikia, ayo hitung ulang lagi, insya Allah bisa.
saya ajak ibu dan ayah kandung anakku (kakak iparku) untuk ikutan wawancara.
Mengajak ibu dengan harapan kalau beliau melihat tempatnya dan melihat suasana waktu daftar ulang, semoga ibupun jadi punya tekad dan kecintaan yang sama untuk memasukkan cucunya ke Insan cendikia.
Dan Alhamdulillah setelah berada di IC, ibuku senang. Subhanallah memang, setiap kita berpapasan dengan murid lama di situ, mereka selalu mengucapkan salam ke kita, menyejukkan sekali. Ibu, apalagi yang dicari di dunia ini, selain restu dan doa ibu ?
Dan setelah wawancara dengan kepala sekolah, Alhamdulillah, kami mendapat keringanan, untuk uang muka tidak harus selesai mei, tapi bisa sampai akhir tahun, dan SPP menjadi 1.250.000 bukan 1.500.000
Alhamdulillah.
Semoga engkau berprestasi anakku …..
April 24th, 2006 at 11:52 pm