Archive for April, 2006

Anakku masuk Insan Cendekia

Wednesday, April 19th, 2006

www.insancendekia-tng.net , nama resminya adalah Madrasah aliyah negeri Insan Cendekia.
Saya punya ponakan, tapi saya lebih suka menyebutnya sebagai anak saya, Insya Allah tamat smp tahun ini.
Saya sering mendengar kalau SMA atau Aliyah besutan BPPT yang kemudian diserahkan ke depag ini punya prestasi yang bagus. Diambil praktisnya, relatif mudah mengukur SMA itu bagus atau tidak, yaitu dengan melihat tingkat kelulusan ke PTN dari alumninya. Dan SMA ini setiap tahunnya meluluskan lebih dari 95 persen alumninya ke PTN. Pokoke bagus lah …
Berbekal keinginan untuk mendapatkan pendidikan yang baik bagi anak, jauh jauh hari saya mencari informasi pendaftaran ke SMA ini.
Januari lalu saya datang ke sana dan menemui tata usahanya.
"Pendaftaran dari tanggal 15 februari sampai 31 maret pak" pak tata usaha menjelaskan dengan ramah, sambil menyodorkan brosur.
"Kalau biayanya berapa pak ?" tanya saya.
Untuk mendapatkan mutu yang bagus, adalah keharusan bahwa tenaga yang menggerakkannya haruslah mendapatkan penghasilan yang bagus juga. Logika saja, kalau untuk menghidupi keluarganya harus bersusah susah, bagaimana mungkin seorang guru bisa berkonsentrasi mengajar, dan mengajarkan ilmu ke murid-muridnya dengan tenang.
"Belum tahu pak, tahun sebelum ini sih  uang mukanya 15.000.000 trus SPPnya 1.250.000 per bulan" jelas pak tata usaha.
"Duh kok mahal betul yah pak" gumanku
"yah .. memang yang sekolah disini dari golongan menengah ke atas" jawab pak tata usaha
Dooooooooooooooooooooooooohhhhhh
"Jadi kalau menengah ke bawah, agak sulit mendapatkan pendidikan yang bermutu kalau begitu pak ?" guman saya ….
"Yah ada beasiswa bagi yg dari pesantren atau dari MTS, sekitar 10 % dari jumlah siswa" jawabnya. Dari nada kalimat terakhirnya, saya menangkap hal yang kurang enak, entahlah, saya merasa beliau tidak se welcome sebelumnya.
"terima kasih pak" dan sayapun pulang.
waktu pendaftaranpun tiba.
Dengan mencoba menghitung kemungkinan rezeki yang akan diterima nanti, Bismillah, saya daftarkan anak saya. Soal biaya ….  insya Allah ada jalan. atau paling tidak ikut ujian dulu lah.
Berbondong-bondong orang tua mendaftarkan anaknya, padahal anak anak itu lulus SMP saja belum.
Dari yang akan diterima 120, yang mendaftar 702, subhanallah, antusiasme yang cukup tinggi.
Waktu ujian tiba.
"pokoknya kamu harus ujian dengan sungguh2 nak" saya bilang ke anak saya.
"trus diisi semua ? apa kalau gak yakin dibiarkan saja kosong ? " tanya anak saya.
"Isi semua, jangan biarkan kosong, dan jangan keluar sebelum bel, periksa dan periksa lagi, kalau gak yakin, cari yang paling yakin" saya meminta ke anak saya untuk sungguh sungguh.
Waktu pengumuman tiba, Subhanallah, Anak saya lulus, senang tentu saja.
Dan bagi yang sudah lulus diminta untuk daftar ulang ….
Di paduan daftar ulang ditulis, diminta untuk membayar sekitar 12 juta pas tanggal 14 april, 4 juta sekian dibayar sampai akhir april, 4 juta sekian lagi dibayar sampai akhir mei. Kalau tidak membayar sesuai yang dituliskan, dianggap mengundurkan diri.
Ya Allah ya Rahman ….. saya mencintai saudara saya, saya mencintai kalau saudara saya berprestasi, saya mencintai kalau saudara saya terpenuhi kebutuhannya, saya mencintai Insan cendikia sebagai institusi islam yang punya prestasi yang tidak kalah dengan sekolah yang berakhiran us us itu, saya mencintai Insan cendikia sebagai yang saudara seiman seakidah.
Tapi dari mana ini dapat uang sedimikian besar dan sedemikian tepat waktu itu.
Ibuku dan adikku menyarankan untuk tidak dilanjutkan.
"Insya allah kalau anak itu bernasib baik, nanti juga akan punya rejeki sendiri pas dewasa" Kata ibu saya bijaksana.
Tapi cinta dan keinginan ini sudah cukup besar untuk memasukkan anak ke Insan cendikia, ayo hitung ulang lagi, insya Allah bisa.
saya ajak ibu dan ayah kandung anakku (kakak iparku) untuk ikutan wawancara.
Mengajak ibu dengan harapan kalau beliau melihat tempatnya dan melihat suasana waktu daftar ulang, semoga ibupun jadi punya tekad dan kecintaan yang sama untuk memasukkan cucunya ke Insan cendikia.
Dan Alhamdulillah setelah berada di IC, ibuku senang. Subhanallah memang, setiap kita berpapasan dengan murid lama di situ, mereka selalu mengucapkan salam ke kita, menyejukkan sekali. Ibu, apalagi yang dicari di dunia ini, selain restu dan doa ibu ?
Dan setelah wawancara dengan kepala sekolah, Alhamdulillah, kami mendapat keringanan, untuk uang muka tidak harus selesai mei, tapi bisa sampai akhir tahun, dan SPP menjadi 1.250.000 bukan 1.500.000
Alhamdulillah.
Semoga engkau berprestasi anakku …..

negara penipu

Tuesday, April 4th, 2006

Maafkan saya kalau judul yang saya gunakan sarkastis.

Tapi marah dan kesal ini sudah sampai ubun-ubun.

Negara ini memang dipenuhi oleh para perampok.

Tarif dasar listrik yang jelas2 sudah lebih mahal dari luar negeri (ini dalam currency USD), masih minta dinaikkan.

Harga pupuk per kilo lebih mahal dari harga beras per kilo.

Harga beras di luar negeri lebih mahal dari harga beras di dalam negeri, justru kita semangat mengimpor.

Harga semen di luar negeri lebih murah daripada di dalam negeri, justru kita melarang impor semen dan malah mengekspornya. Dan negara membiarkan para orang gila untuk menjadi oligopoli.

Harga obat di kita 10 kali lebih mahal dari harga obat di India. Dan mungkin memang harga obat di kita termahal di dunia.

Kita memang dirampok habis habisan, di rumah (listrik,telepon dsb), di kantor (pajak), di sekolah dengan biaya2 besar, di rumah sakit, di jalan di kendaraan.

Ya Allah ya Rahman …. tolong kami ya Allah

Celoteh anak

Monday, April 3rd, 2006

Lucu, itu kata yg paling tepat untuk mengomentari celoteh anak.
kemarin anak saya (3 tahun) diminta untuk beli ke tukang sayur yg lagi mangkal di tetangga yang agak jauh dari rumah, selain kami emang lagi agak males jalan, juga agak iseng meminta dia untuk berbelanja sekedar ingin tahu dia bisa apa enggak. Jadi kami kasih dia uang dan juga secarik kertas yang berisi tulisan belanjaan yang mau dia beli.
ujian pertama: menyebrang jalan utama kompleks. Kami bilang agar lihat-lihat ada motor apa enggak, kalau ada jangan nyebrang dulu. Gak lama setelah suara gerbang pagar terdengar dibuka dia teriak … bismillah (*tarik nafas*) irrahman (*tarik nafas*) irrahim, lalu lari menyebrang .. subhanallah .. senang sekali melihatnya  :-)
Sampe di tukang sayur dia serahin kertasnya ke tukang sayur.
Mbak War, khadimat di tempat tukang sayur mangkal iseng ngegodain:
"Sudah emam yah kok lari-lari kesininya"
"Iya sudah emam  pake ikan" jawab anak saya
"Oh ya pake ikan, ikan apa ? ikan hiu ?" goda Mbak War
"iya pake ikan hiu" jawab anak saya, gak tahu ngerti apa enggak ikan hiu itu yang model bagaimana.
"Wah serem dong, ikan hiu khan besar, masa dimakan ?" kata mbak war lagi sambil ketawa …
"Khan sudah digoreng" jawab anak saya.
akhirnya semua yang ada di situ pada ketawa "nyimak juga nih anak …" kata mbak War.
he he he he  touche kata orang perancis … jangan nganggap enteng anak kecil yah   :-) 

Biaya

Sunday, April 2nd, 2006

Kenapa didunia ini ada object bernama biaya yah ? mana object ini nempel ke kebutuhan kita lagi …

mau sehat, ada biaya …

mau sakit … ah gak ada orang yang mau sakit ..

mau pintar, ada biaya …

mau nikah, ada biaya …

sudah nikah, juga ada biaya …

Ingin punya anak, ada biaya …

sudah punya anak, juga ada biaya …

ingin sekolah, ada biaya …

selesai sekolah … lebih besar lagi biayanya …

pusiiiiiiing …

Enak jadi anak-anak aja kali, gak pake muter-muter otaknya mikirin object satu ini ..

kemarin nonton video bareng anak. judulnya "Lemony snicket’s A series of unfortunate events". Pas di adegan rumah bibi pemeran anak piatu runtuh ke laut, anak saya enteng saja komentarnya .. "Nanti beli lagi rumahnya ya bi …" ah subhanallah … emang enak jadi anak kecil … gak ngejlimet mikirin langkah apa yg harus dilakukan .. kalau rumah runtuh, yah tinggal beli rumah baru toh, kayak kalau balon dia meletus tinggal beli balon baru … soal biaya, itu mah urusan ortunya …

Ah … saya juga pengen gitu ah … rumah jadi hunian siti* dan siray* … tinggal direhab toh … anak mau pindah sekolah dari smp ke SMA tinggal pindahkan saja toh … hutang biaya program melati masih ada, tinggal lunasi toh … motor sudah bunyi krosak-krosok kalau lagi dipakai, tinggal diganti atau dibenerin toh …

biayanya ? … au dah …

 

*siti = si tikus

*siray = si rayap