Tukang sol Sepatu
Sudah beberapa minggu ini I need new shoes, Tapi benar benar saya lagi broke bulan ini, biaya yang cukup bertubi2 membuat saya harus benar benar mengikatkan pinggang dengan ketat, konon lagi beli sepatu baru, so … yah kepaksa walau sudah mangap mangap depannya, sepatu hadiah dari istriku tersayang selalu saya pake ke kantor.
Pagi itu saya bawa motor, berniat telat dulu ke kantor karena saya mau sempatkan ke tukang sol sepatu, karena selain bagian depan yang sudah mangap, yang di musim hujan ini makin membuat dia haus … sehingga lewat genangan sedikit saja kaos kaki langsung basah, sepatu saya juga tidak punya alas antara kaki dengan bagian karet yang tidak rata, jadi kalau agak lama pake sepatunya lumayan agak lecet lecet juga kaki saya.
Pagi pagi sekali, belum juga jam tujuh saya lewat di pasar ciputat yang macet, rupanya sudah cukup banyak juga tukang sol sepatu yang sudah buka. Subhanallah, saya melihatnya sebagai rasa optimis yang besar dalam menghadapi hidup, dalam menyikapi pembagian rejeki yang Allah berikan ke hambaNya. Padahal kalau saya pikir pakai logika saya yang naif ini, berapa sih pendapatan mereka sebetulnya.
Saya mencoba menghitung, kalau mereka dalam sehari mendapat 30.000 berarti dalam sebulan mereka mendapat 900.000, itu kalau tetap … langgeng setiap hari 30.000, kalau kurang dari itu ? kalau malah ada hari yang tidak ada sama sekali ?
Tapi tetap saja besoknya saya melihat mereka telah buka pagi pagi sekali … dengan tetap membawa harapan, bahwa tiap2 yang bernyawa sudah digariskan rezekinya.
Saya jadi ingat anak saya yg berumur 3 tahun. Dia lagi rajin2 nya ngaji, tidur siang tepat waktu,bangun tidur siangpun tepat waktu, hampir tidak pakai dibangunkan dulu,pergi ngaji ba’da ashar … Selalu kelihatan sumringah kalau menceritakan majelis pengajiannya, kalau lagi ngambekpun saya alihkan topik ke majelis pengajian, langsung berhenti nangis dan semangat menceritakannya.
Saya tanya ke istri, emang yang ngajar siapa mi ?
Itu yang biasa muter, yang jadi tukang sol sepatu. Subhanallah ….
Lantas saya berguman sendiri … jangan2 yang menjahitkan sepatuku ini, hafalan Alqurannya jauh lebih banyak dari yang saya punyai … Jangan2 bacaan alqurannya lebih fasih dari bacaanku .. ilmu fiqihnya lebih dari ilmuku …
Allahu Akbar.
March 20th, 2006 at 1:27 am
Jadi ingat lagunya Ebiet G Ade,… “Nyanyian Suara Hati”,
petikan syairnya =maka sesungguhnya mereka lebih bahagia, dapat mensyukuri apa yang mereka miliki ,…… =
lagu ini pula yang sering menemani dan selalu mengingatkan aku untuk selalu bersyukur…
-lebih tinggi iman seseorang, akan lebih tinggi/berat pula ujian yg dihadapinya-
semoga Allah SWT, tetap memberikan kekuata iman.
Jack.. sekiranya tutur kata saya kurang berkenan dan sok tau ,.. maafkan saya…. maafkan saya pula hanya bisa ikut berdoa, untukmu/keluargamu Jack…