Archive for March, 2006

Karir

Wednesday, March 22nd, 2006

Kita atau tepatnya saya terkadang lucu yah, kadang tidak mengerti jalan hidup ini.

Waktu muda kita lincah tapi merasa belum banyak bisa, belum banyak pengalaman, giliran umur sudah mulai bertambah, memang merasa sudah banyak bisa, tapi tidak lincah lagi, banyak banget if-nya (istilah pemrograman) untuk mau melakukan sesuatu.

Itu yang saya rasakan sekarang ini, ketika merasa yang saya lakukan di tempat sekarang begini begini saja, mulai ada terpikir untuk pindah - keluar dari kantor yang sekarang, bahkan terpikir untuk melamar ke lowongan di luar negeri. Tapi ya itu tadi pertimbangan-pertimbangan atau kata "kalau-kalau" atau "jangan-jangan" membuat saya tidak begitu berani untuk nekad  :-)

Ayah ayah ayah ya ayah ….

Tuesday, March 21st, 2006

Saya yakin betul, pandangan anak terhadap ayahnya adalah hasil didikan ibunya.

Kalau kemudian seorang anak membenci ayahnya, dan ini tidak sedikit, bagaimanapun itu bentuk kegagalan sang ibu dalam mendidik anaknya. Anda boleh protes, tapi rasanya banyak contoh2 seperti itu.

Begitu juga, ketika seorang anak sangat bangga dengan ayahnya, ini juga karena sang ibu selalu mengajarkan ke anak kalau sang ayah adalah orang yang terbaik di rumahnya, di keluarganya.

Kalau istri gampang mengeluh tentang kelakuan suaminya, apalagi keluhan itu sampai ketahuan sama anaknya, hampir pasti sang anakpun makin kehilangan kebanggaan terhadap ayahnya.

Tapi kalau sang istri bisa mengendalikan diri, selalu bisa mengarahkan agar sang anak bangga terhadap ayahnya, Insya Allah sang anakpun akan bangga kepada ayahnya.

Dan cobaan yang paling kuat bagi seorang istri, adalah ketika sang suami mulai tertarik dengan wanita lain, apakah tertariknya itu syar’i (dengan menikahinya) atau tidak (ini lebih parah, ‘audzubillah). Betapa banyak anak yang ikutan kalang kabut ketika sang ibu gundah, dan akhirnya sang anakpun lepas, liar  (naudzubillah), atau ya itu tadi … sang anak tidak lagi hormat ke ayahnya.

Bagaimanapun keluarga itu gabungan dua orang, suami dan istri. Saya ada tahu suatu keluarga, istrinya cukup berpengaruh (dalam arti baik), banyak keputusan penting dalam keluarga itu yg datang dari ibu atau dari keinginan sang ibu, ketika sang ayah meninggal, ternyata ibu yang tegar itu kadang agak ngambang, kelihatan keputusan2nya tidak setajam dulu. 

Contoh yang sukses ….BANYAK……

Di kompleks saya pernah tinggal keluarga, kemudian keluarga ini pindah ke australia, bisnis dari keluarga ini mengharuskan sang suami sering bolak balik ke Indonesia. Sampai akhirnya sang suami pun punya istri juga di Indonesia, ketika hal ini ditanyakan ke istrinya yang di australia, jawaban dia … subhanallah … "Itu fitrah, saya mendukung, ketimbang dia tidak syar’i" … subhanallah. Terakhir, saya mendengar kalau mereka berdua (sang suami dan istrinya yg di australia, pergi haji bareng dan berangkat dari Indonesia).

Contoh yang lain, sangat populer, pak Puspo pemilik wong Solo. Semoga beliau istiqamah. Saya sering membaca kalau anak2 mereka sering mendatangi ibu2nya yang lain, hormat, bisa mengadukan masalah ke ibunya yang lain itu. Subhanallah.

Anda boleh protes dan bilang, Tulisan ini sangat setereotip pria, sangat mengakomodasi keinginan laki laki. Tapi anda pasti sepakat dengan topic awal saya, "Pandangan anak terhadap ayahnya, sesuai dengan bagaimana sang ibu mengajarkan tentang ayah kepada anaknya".

Tukang sol Sepatu

Sunday, March 19th, 2006

Sudah beberapa minggu ini I need new shoes, Tapi benar benar saya lagi broke bulan ini, biaya yang cukup bertubi2 membuat saya harus benar benar mengikatkan pinggang dengan ketat, konon lagi beli sepatu baru, so … yah kepaksa walau sudah mangap mangap depannya, sepatu hadiah dari istriku tersayang selalu saya pake ke kantor.

Pagi itu saya bawa motor, berniat telat dulu ke kantor karena saya mau sempatkan ke tukang sol sepatu, karena selain bagian depan yang sudah mangap, yang di musim hujan ini makin membuat dia haus … sehingga lewat genangan sedikit saja kaos kaki langsung basah, sepatu saya juga tidak punya alas antara kaki dengan bagian karet yang tidak rata, jadi kalau agak lama pake sepatunya  lumayan agak lecet lecet juga kaki saya.

Pagi pagi sekali, belum juga jam tujuh saya lewat di pasar ciputat yang macet, rupanya sudah cukup banyak juga tukang sol sepatu yang sudah buka. Subhanallah, saya melihatnya sebagai rasa optimis yang besar dalam menghadapi hidup, dalam menyikapi pembagian rejeki yang Allah berikan ke hambaNya. Padahal kalau saya pikir pakai logika saya yang naif ini, berapa sih pendapatan mereka sebetulnya.

Saya mencoba menghitung, kalau mereka dalam sehari mendapat 30.000 berarti dalam sebulan mereka mendapat 900.000, itu kalau tetap … langgeng setiap hari 30.000, kalau kurang dari itu ?  kalau malah ada hari yang tidak ada sama sekali ?

Tapi tetap saja besoknya saya melihat mereka telah buka pagi pagi sekali … dengan tetap membawa harapan, bahwa tiap2 yang bernyawa sudah digariskan rezekinya.

Saya jadi ingat anak saya yg berumur 3 tahun. Dia lagi rajin2 nya ngaji, tidur siang tepat waktu,bangun tidur siangpun tepat waktu, hampir tidak pakai dibangunkan dulu,pergi ngaji ba’da ashar … Selalu kelihatan sumringah kalau menceritakan majelis pengajiannya, kalau lagi ngambekpun saya alihkan topik ke majelis pengajian, langsung berhenti nangis  dan semangat menceritakannya.

Saya tanya ke istri, emang yang ngajar siapa mi ?

Itu yang biasa muter, yang jadi tukang sol sepatu. Subhanallah ….

Lantas saya berguman sendiri … jangan2 yang menjahitkan sepatuku ini, hafalan Alqurannya  jauh lebih banyak dari yang saya punyai … Jangan2 bacaan alqurannya lebih fasih dari bacaanku .. ilmu fiqihnya lebih dari ilmuku …

Allahu Akbar.

Harapan

Sunday, March 12th, 2006

Topic yg paling dominan pada tahun ini dalam kehidupan kami adalah bayi, hamil, dan harapan …

Hari hari yang paling banyak dilakukan selain bekerja adalah hari2 berkunjung ke R.S. Harapan Kita.

–*———————————————–

"Sus, si cut kembar, saya kok tidak ?" Protes seorang calon ibu yg ikut program melati. Cut adalah panggilan istri saya.

"Eh, harus disukuri loh, apa enggak lihat banyak juga yang gagal waktu ikutan program ini ?" jawab suster

"Iya sih …."  akhirnya si pemrotes terharuskan menjadi sadar.

Agak lucu juga sih ngobrol dengan teman seangkatan program satu ini. pernah dia bilang "Si cut dapat dua, kita cuman satu sementara biaya dan harga obatnya sama". duhhhhhhhhhh

–*———————————————–

"Saya protes, kenapa ketika masa genting, Dr Muchsin tidak ada. Sehingga kami gagal di saat yang amat penting ini." ungkap seorang yang kecewa. Embrio mereka tidak berkembang , padahal mereka baik suami2  atau istri2  sama sama bagus kualitas sperma dan ovumnya. Dan mereka sama sekali tidak ada treatment tambahan selain dari yg sudah dijadwalkan sebelumnya. Dr Muchsin adalah spesialis patologi klinik yang menangani pencampuran ovum dan sperma. Kebetulan pada waktu OPU (ovum pic up) Dr Muchsin lagi ada di thailand sedang ada seminar, tapi tentu saja dia punya asistennya, dan penanganan pencampuran itu juga selalu dikakukan oleh asistennya (dengan pengawasan Dr muchsin, kalau beliau ada). iya … mereka menyandarkan kekecewaannya pada ketidakhadiran Dr Muchsin ketika proses mereka dijalankan.

"Kami juga tidak mengerti, kasus ini jarang sekali, baik ovum2 anda atau sperma2 anda semuanya bagus. Nanti kami pikirkan, apalagi kita teman sejawat." jawab Dr Yuslam yg kebagian jaga, dan tentunya kebagian menyampaikan berita tidak mengenakkan itu ke mereka. dikatakan teman sejawat karena kebetulan teman2 seangkatan kami ini adalah dua2nya dokter. si istri dua2nya dokter, suami 1 dr satu pengusaha.

later on …

"Anda berdua boleh mengulang lagi dengan program ICSI dengan biaya hanya 16,5 juta."

Biasanya untuk program ICSI dibutuhkan biaya 49 juta.

–*———————————————–

"Cut, saya kemarin habis jalan2 ke mal ambasador loh." Andi, orang makasar, teman satu program kami cerita.

Kami, yg ikutan program melati di Harapan kita ini, ada menyebut satu tempat dengan nama gosip corner. Karena yang ikutan program melati menunggu dan bercerita ditempat ini. :-)

"Loh khan baru saja ET (embrio transfer)," Jawab istri saya.

"Habis saya rasanya bisa mati kebosanan kalau saya diam di rumah saja …" tukas Andi.

"waduh, musti hati2 loh jeng."

later on ….

"Saya ingin menangis sekeras kerasnya nanti malam , sekeras kerasnya sampai tak ada lagi air mata tersisa, sesudah itu sudah … selesai."  kata bu Andi, kecewa …. Dia haid sesudah satu minggu ET. Ya Allah ya Rahman …..

"Ini memang suami saya, semenjak lahir kualitas sperma dia tidak bagus" lanjutnya

"Bu, kalau ada ET (embrio transfer) bukankah itu sudah satu bukti, kalau sperma suami ibu mampu membuahi ovum ibu" istriku menjawab, berusaha tidak menjudge siapapun ….

"Iya sih …." kata Andi

"Suamiku bilang dia ingin mengulang lagi di bulan april"   lanjutnya.

yup … saya suka berkata sama istri saya …

bisa jadi kita tidak punya apa2 di dunia ini, tapi jangan sampai kita tidak punya harapan ….

Allahu akbar!!

Ciledug ….

Sunday, March 12th, 2006

Dulu saya kost di ciledug sampai 8 tahun, bukan waktu yang pendek, dan membuat saya banyak kenal mereka yang tinggal di sana.
Ada seorang teman akrab yang orang tuanya tinggal di sana.
Pas kami masing2 berumah tangga saya pindah ke pamulang, dan ternyata teman saya ini pindah ke Pamulang juga, kompleks kami bertetanggaan. Jadilah kami sering ketemu, selalu ada bahan untuk ngobrol, cerita2 masa lalu.
Minggu 26 februari ayah teman saya ini meninggal. Dan saya ikut melayat, cukup lama, dari pagi jam 8 sampai jam satu siang. Kayak pulang kampung, ketemu teman teman yang lain, bapak2 yang lain. cerita2 … Si ini telah jadi ini, si anu sekarang begitu dst.
Ada seorang bapak lewat, **dug** , o ma’ …. ini ayah pacar saya dulu (he he he he).
Saya berdiri, bangun, mendekat, dan menyapa dengan hormat, bersalaman.
"Oh nak Yatno, apa kabar ?"
"Alhamdulillah pak, sehat, bapak sehat juga khan ? …"
"Alhamdulillah … eh ini anaknya yah .."
saya memang ke sana sambil bawa Diah, ibunya (istriku :-) ) lagi hamil, jadi saya membawa Diah biar ibunya bisa tenang.
"Iya pak … " jawabku …
"Eh ayo main nak Yatno … "
"Siti ada di rumah juga loh " lanjutnya sambil berbisik ….
Wadooooowwww bapak ini, bikin saya agak termenung sebentar, mencari tahu tahu makna lain dari kalimat terakhirnya, apa maksudnya, kok sambil berbisik, sejenak Ge-eR saya tumbuh, sejenak yang lain sebel saya muncul, ah bapak ini kenapa sih, saya khan dah nikah, Siti juga sudah, saya ke sini bawa anak, dan Siti juga sudah punya anak, nanti kayak lagunya bruri pesolima lagi —sepanjang jalan kenangan, … dst … engkau telah berdua, dan akupun begitu …. —-.
"Makasih pak, Insya Allah lain kali saya main " jawabku tetap hormat.
Getar2 itu muncul sejenak, sejenak yang lain .. teringat umi Diah di rumah, istri yang subhanallah, yang selalu ada alasan bagiku untuk mencintainya.
Ah … itu Ge-eR ku saja … aku mencoba meredam diri. mungkin maksud bapak ini khan baik baik saja. he he he he
Siangnya ketemu lagi, "Salam dari ibu (istri beliau) katanya salam, dan suruh main ke rumah …" Kali ini tidak sambil berbisik.
Ah kali ini saya yakin, maksud bapak ini baik2 saja kok (*** lah memang *** :-) )

he he he he … yatno yatno …jagalah hatimu …

kewajiban kita adalah mengusahakan yg terbaik, Soal hasil hak Allah semata

Sunday, March 12th, 2006

Rindu, gulana gundah bekecamuk.
Setiap hal yang seolah menuju kesitu selalu disikapi dengan sejuta harap.
Do’a dipanjat.
Ya Allah, jangan jadikan kami sebatangkara … Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik ahli waris.
Ibu ini pertama kali menikah ? yup.
Bapak ?
Ini yang kedua ? yap (ajalah … gak mau berpanjang-panjang dengan masa lalu).
Istri terdahulu ada punya anak ? gak.
Tak juga hamil yg kemudian keguguran ? tak juga.
suster mengangguk ngangguk, whatever, gak mau mikirin pikiran orang lain.
Yg pas buat ibu dan bapak adalah program ICSI.
Jum’at (9des) atau kamis bapak dateng lagi.
Dari semua cape, tidak profesional, kesel, tetap disitu ada harapan.
Jum’at dateng, 4 pasangan, presentasi yang bagus. memberi harapan. Semoga.
Untuk program ICSI, biaya-nya 49 juta pak.
Bi, rumah kita mulai bocor, tabungan kita terkuras semua, bahkan bakal punya hutang.
Tak apalah mi, bukankah banyak juga pasangan yang ketika anak pertama lahir, rumah kontrakan yg mereka tempati juga sering tak layak.
Ya Allah, semoga semua usaha ini …. menjadikan kami punya satu dari tiga amal anak adam yg tidak terputus ketika kami meninggal.
Anak yang shaleh …. yang selalu mendoakan kedua orang tuanya.
Allahu Akbar.

Kapan dan bagaimana suasana hati yg nyaman tercipta ?

Sunday, March 12th, 2006

Istriku sayang, kakandamu merindukanmu, sungguh …. Adakah suasana hati kita saling bertaut, saling merindukan ……………..

matematika 3

Sunday, March 12th, 2006

Saya pernah repost ke milist alumni sma saya :

Masih pada suka matematika khan ? :-)
ada yang bisa jawab gak pertanyaan dibawah ?
The problem:
There are seven numbers: A, B, C, D, E, F, G.
When all these numbers except A are added together, 116 is obtained.
When all these numbers except B are added together, 122 is obtained.
When all these numbers except C are added together, 123 is obtained.
When all these numbers except D are added together, 108 is obtained.
When all these numbers except E are added together, 110 is obtained.
When all these numbers except F are added together, 119 is obtained.
When all these numbers except G are added together, 100 is obtained.
Determine value of each number.
many thanks!

satu bilang : ini soal matematika atau soal bhs inggris sih ?
satu lagi bilang : ah dari dulu juga gua gak suka matematika !
ada lagi yg reply (yg ini orangnya cantik, *** apa coba hubungannya :-) ***): " gile rajin amat … kerja kerja ", padahalnya ane yakin si cantik ini gak lagi kerja juga, wong emailnya deras juga :-)

Heran kenapa aku gak lulus sipenmaru yah @!$#!#%$#@$%@$#%#$%@

satu orang menjawab jitu. Flash back ke SMA flash back ke apa yah … au ah …

jadi jawabannya apa ?

jumlahin aja, 6(a+b+…+g) = x
a = ( x / 6 ) - 116.
dan seterusnya.

Oh masa lalu … oh diriku … oh … oh … kalau dirimu tak bangga jadi diri sendiri, diri sendiri juga tak bangga sama dirimu.

matematika 2

Sunday, March 12th, 2006

Saya suka ngobrol sama ponakan saya,

"Coba kamu jumlahkan angka satu sampai seratus "

saya punya 11 ponakan, 10 dari kakak, satu dari adik, saya sendiri baru punya satu anak angkat. waktu itu cuman 3 ponakan saja yang bisa saya ajak obrol dengan topik kayak ini.

dua ponakan sigap menghitung, satu sih ngelihatin aja.
setelah lama, satu datang ke saya dan hitungannya benar, setelah lama, dan memang lama.
yang satu lagi nyerah, setelah pusing, later on, saya malah memaksanya untuk ambil jurusan matematika di kuliahnya.

saya bilang, coba kamu jejerkan angka satu sampai lima puluh dari kiri ke kanan,
trus tulis di bawahnya dari kanan ke kiri dari lima puluh satu sampai seratus,
trus jumlahkan, akan kamu dapatkan 50 angka 101. jadi totalnya 101 * 50 = 5050.

mereka ribut, dan bilang, hebaaat euy si oom, itu rumus ciptaan sendiri yah oom ? saya dengan pedenya bilang iya :-)

padahalnya sih, ayah saya dulu pernah juga cerita model gini, bakat matematika bawaan.

dulu ada majalah namanya mekatronika, di salah satu artikelnya cerita tentang gauss, seorang jenius semenjak masih bocah. Suatu saat di kelasnya di suruh ngitung dari satu sampai seratus seperti diatas, yg lain pusing, si gauss tenang-tenang saja, karena cara dia menghitung sama seperti yang saya tulis diatas. Mungkin si gauss dapat cerita yg sama dari ayahnya juga kali ..
terakhir si gauss jadi ilmuwan besar, mungkin dulu belum ada komputer, jadi dia gak terjebak melamar sebagai programmer.

Matematika

Sunday, March 12th, 2006

kalau ada 3 perusahaan penyedia layanan gsm,

satu bilang, lu bayar 40.000 rupiah untuk 700 menit pertama, trus untuk tiap menit berikutnya bayar 400 rupiah.

satunya lagi bilang, lu bayar 25.000 rupiah untuk 700 menit pertama, trus selanjutnya 550 untuk tiap menit.

yang ketiga, lu bayar 80.000 untuk 200 menit pertama, trus selanjutnya cuman bayar 75 tiap menitnya.

pertanyaannya, pada dimulai di pemakaian berapa satu lebih bagus dari yg lainnya.

Sering saya merasa diri jago matematika, beberapa momen belajar matematika masih menempel di ingatan ini,

waktu SD pernah guru saya bikin berapa soal, trus saya bilang soal nomor sekian dan nomor sekian kok sama pak ?, guru saya bilang ssssstttt jangan bilang bilang, jawab aja.

SMP, sepupu saya yg satu tingkat di bawah saya bilang, guru matematikanya bilang, di kelas tiga itu yg berhak nilai 7 untuk matematika cuman yatno, yg lainnya harus dibawah itu. " Loh kok cuman 7 ? #@$%@#$ "

SMA, sekali dapat 7 semester satu, selanjutnya selalu 8 atau sembilan.

Sipenmaru, matematika dan kimia, dua mata ujian yg saya yakin bisa saya isi dengan baik dan banyak, tapi saya tidak lulus sipenmaru, !@#$%!@#$@#$%@#%$

Kuliah, sekali saja saya dapat nilai C, selanjutnya B dan A, bahkan matematika 6 dimana gurunya terkenal killer, saya satu dari dua mahasiswa yg dapat A, sementara lebih dari setengah kelas tidak lulus atau paling dapat C.

Cita cita sih pengen jadi guru matematika, mungkin karena gagal sipenmaru, jalan hidup gak selalu sesui dengan cita cita, terdampar .. jadi system analyst, beberapa menyebutnya sebagai programmer.

trus gimana soal diatas,
setelah lebih dari 10 tahun gak nyentuh matematika, agak lama juga men-tune lagi otak agar bisa nalar matematika, setelah seharian plus semalam melamun berpikir pada soal tersebut, akhirnya kutemukan jawabannya "yang mungkin benar" :

Y = 40.000 + ( X - 700 ) * 400
X >= 700

Y = 25.000 + ( X - 700 ) * 550
X>= 700

Y = 80.000 + (X - 200 ) * 75
X >= 200

trus tinggal hitung di koordinate mana mereka bersinggungan.